Kritik Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota Mojokerto, Mahasiswa Turun ke Jalan dan Gelar Aksi di Tiga Titik
Ketua DPC GMNI Mojokerto Raya dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi masyarakat
Jatimnews.info || Mojokerto – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mojokerto dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Mojokerto menggelar aksi demonstrasi pada Rabu (11/3/2026).
Aksi tersebut menjadi bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap jalannya pemerintahan di Kota Mojokerto.
Demonstrasi digelar di tiga lokasi berbeda, yakni Kantor Pemerintah Kota Mojokerto, Kantor Pemerintah Kabupaten Mojokerto, serta Gedung Rumah Rakyat Kota Mojokerto. Ketiga titik tersebut dipilih sebagai simbol kritik mahasiswa terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Ratusan massa aksi tampak memadati kawasan depan Kantor Pemkot Mojokerto sejak siang hari. Para demonstran membawa berbagai poster, spanduk, dan atribut yang berisi tuntutan serta kritik terhadap kinerja pemerintah kota.
Dalam berbagai poster yang dibentangkan, mahasiswa menyoroti satu tahun masa kepemimpinan Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari atau yang dikenal sebagai Ning Ita. Mereka menilai berbagai program yang dijanjikan kepada masyarakat belum sepenuhnya terealisasi secara maksimal.
Beberapa tulisan yang dibawa massa bahkan menyebut pemerintahan saat ini memiliki “rapor merah”, yang menurut mereka harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah agar lebih serius dalam menjalankan program pembangunan.
Aksi demonstrasi sempat memanas ketika massa melakukan pembakaran ban di depan area kantor Pemkot Mojokerto.
Pembakaran tersebut dilakukan sebagai bentuk simbol kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah daerah yang dianggap belum berpihak kepada masyarakat.
Api dari ban yang dibakar sempat membesar sehingga aparat keamanan mencoba melakukan pemadaman guna mencegah situasi semakin tidak terkendali.
Upaya tersebut memicu ketegangan karena sebagian massa aksi berusaha mempertahankan aksi tersebut.
Ketegangan akhirnya tak terhindarkan ketika terjadi aksi saling dorong antara demonstran dan aparat keamanan yang berjaga di lokasi.
Meski demikian, aparat tetap berusaha mengendalikan situasi agar aksi tidak berkembang menjadi kericuhan yang lebih besar.
Ketua DPC GMNI Mojokerto Raya dalam orasinya menyampaikan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.
“Kami datang membawa aspirasi rakyat. Sudah satu tahun pemerintahan berjalan, namun perubahan yang dijanjikan belum benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Selain menyampaikan kritik, massa juga menyayangkan tidak adanya kesempatan untuk berdialog secara langsung dengan Wali Kota Mojokerto. Mereka berharap pemerintah daerah membuka ruang komunikasi yang lebih terbuka dengan masyarakat.
Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan, aparat gabungan dari Polres Mojokerto Kota, Polres Mojokerto Kabupaten, Polsek Magersari, serta Satpol PP Kota Mojokerto diterjunkan ke lokasi guna mengawal jalannya aksi.
Meski sempat diwarnai ketegangan, demonstrasi akhirnya berlangsung hingga selesai dengan situasi yang tetap dapat dikendalikan.
Aksi tersebut menjadi bagian dari dinamika demokrasi serta bentuk kontrol sosial mahasiswa terhadap jalannya pemerintahan daerah di Kota Mojokerto.
Jurnalis: Johanes
Lay Out: Lisya Wulan
Editor: Harijono



Posting Komentar