Gempita Suroan Tulungagung: Tradisi Leluhur Terjaga Di Tahun 1448 Hijriah
Doc Foto: MOMEN PERENUNGAN: Mbah Suratno (68), salah satu sesepuh Tulungagung, khusyuk dalam Kirab Pusaka Suroan 1448 Hijriah
Jatimnews.info || Tulungagung – Suasana sakral menyelimuti Bumi Gay Gayatri tatkala ribuan warga tumpah ruah di sepanjang jalan protokol untuk menyaksikan Kirab Pusaka dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah atau yang akrab disebut malam 1 Suro. Acara yang digelar pada Senin malam, 15 Juni 2026, ini menjadi bukti nyata masih kokohnya pelestarian adat dan budaya leluhur di tengah arus modernisasi.
Hadir sebagai sosok sentral dalam momen penuh perenungan ini adalah Mbah Suratno (68), salah satu sesepuh yang dihormati di Tulungagung. Mengenakan pakaian adat Jawa lengkap dengan beskap hitam dan blangkon bermotif batik parang, beliau tampak begitu khusyuk saat membawa salah satu pusaka tumpuan dlm Kirab tersebut. Tatapan matanya tajam namun meneduhkan, mencerminkan kedalaman rasa syukur sekaligus permohonan doa bagi keselamatan dan kemakmuran warga Tulungagung di tahun yang baru.
Langkah kaki Mbah Suratno yang mantap namun tenang diiringi oleh alunan gamelan kodhok ngorek yang magis dan nyala obor yang memecah kegelapan malam. Udara malam terasa berat oleh aroma harum kemenyan yang dibakar, menambah kesakralan prosesi. Ribuan warga yang memadati pinggir jalan tampak terdiam dalam diam, memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para pembawa pusaka dan barisan sesepuh.
"Suroan bagi kami bukan sekadar pergantian tahun, melainkan momen untuk mringet (mengingat) kembali jati diri dan akar budaya kami," ujar Mbah Suratno saat ditemui usai kirab. "Dengan nguri-uri tradisi seperti Kirab Pusaka ini, kami berharap generasi muda tidak melupakan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para leluhur."
Acara Kirab Pusaka ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Suroan di Tulungagung yang juga dimeriahkan dengan berbagai ritual adat lainnya, seperti jamasan pusaka, tirakatan, dan slametan kenduri. Pemerintah Kabupaten Tulungagung sangat mendukung kegiatan ini sebagai bentuk pelestarian warisan budaya takbenda dan sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya yang potensial.
Gempita Suroan 1448 H di Tulungagung menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya menjaga keberlangsungan tradisi leluhur. Di tengah gempuran budaya asing yang kian gencar, masyarakat Tulungagung menunjukkan bahwa mereka tetap bangga dan konsisten merawat akar budaya mereka, menjadikan peringatan Tahun Baru Islam sebagai momentum untuk memperkuat jati diri dan semangat gotong royong.
@jatimnewsinfo
Pewarta: Lisya Wulan
Reporter: Arga
Editor: Harijono



Posting Komentar