Gebukan Maut untuk APMS Nakal dan Oknum "Juru Bicara" Lelah Difitnah
Jatimnews.info || Surabaya – Dunia aktivis dan jurnalistik terkadang memang lebih mirip panggung sandiwara daripada wadah perjuangan. Masih ingat Juhari? Sosok yang dulu dianggap "angin lalu", sering dihina karena kekurangan fisiknya, bahkan dijadikan keset oleh teman-temannya sendiri demi recehan rupiah.
Kini, mereka yang dulu tertawa paling keras mungkin sedang sibuk mencari tempat sembunyi.
Dulu, Juhari hanyalah bayang-bayang. Temuan-temuan hebatnya seringkali "dicuri" dan dipoles oleh oknum yang mengaku teman, lalu dijual ke sana-sini demi gaya hidup hedonis. Juhari dizalimi, diremehkan, dan dianggap tidak punya taring karena tidak vokal dalam "menjilat" penguasa atau pengusaha.
Namun, pepatah mengatakan: Gajah mati meninggalkan gading, penjilat mati meninggalkan hutang rasa malu. Diamnya Juhari ternyata bukan karena takut, melainkan karena ia sedang menyusun "bom waktu" bagi para pemain nakal di Kepulauan Sapeken.
Lelah difitnah sebagai pemeras dan dituduh melanggar UU ITE hanya karena melakukan investigasi, Juhari membuktikan bahwa fakta tidak bisa dibungkam dengan narasi murahan.
Investigasi tajam Juhari berhasil menguliti borok APMS Sapeken.
Penimbunan BBM Bersubsidi, Ditemukan gudang-gudang "siluman" di luar area berizin yang menampung BBM skala besar.
Lahan Ilegal, yaitu Deklarasi perluasan lahan yang diduga kuat tanpa prosedur resmi.
Yang lebih memuakkan, Juhari tidak hanya berhadapan dengan pengusaha, tapi juga dengan oknum APH di Polsek Sapeken yang bukannya mengawal hukum, malah terlihat lebih mahir menjadi "Juru Bicara" alias tameng sang pemilik APMS.
Rencana Tuhan memang tidak pernah meleset. Juhari yang dulu tak dianggap, kini melangkah tegak ke Dit Propam Polda Jatim. Laporan terkait oknum polisi yang "salah kostum" jadi pembela pengusaha kini sudah mendarat di meja pimpinan.
Tak berhenti di situ, PT. Pertamina Patra Niaga Surabaya dan Direktorat Polair Polda Jatim kini memegang berkas panas dari tangan Juhari.
"Dulu saya disebut pemeras, sekarang biarlah data yang memeras keringat dingin mereka," mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.
Kasus Juhari adalah tamparan keras bagi siapa saja yang menilai orang hanya dari fisik atau materi. Juhari telah menunjukkan bahwa seorang aktivis lintas kepulauan tidak butuh tepuk tangan untuk bekerja.
Pesan untuk para mantan "teman" Juhari, Teruslah menjilat, karena sebentar lagi mungkin tidak ada lagi tangan yang bisa kalian jilat saat jeratan hukum mulai mengencang.
Jika investigasi dianggap fitnah, biarlah pengadilan yang bicara. Tapi jika laporan sudah masuk ke Propam dan Polda, itu tandanya "singa" yang kalian bangunkan bukan sedang mengigau, tapi sedang lapar akan keadilan.
Pewarta: Juhari
Reporter: Jay
Lay Out: Wulan
Editor: Harijono



Posting Komentar