Sejarah Akan Mencatat diMana Seekor Semut Akan Menyeret Gajah Ke Hadapan Hukum Atas Kejahatan Terselubung
Jatimnews.info || Surabaya – Di balik megahnya gedung-gedung Surabaya yang angkuh, ada seorang pria dari ujung kepulauan yang sedang dipaksa menelan pahitnya stigma. Juhari, sosok yang belakangan ini lebih rajin "dihadiahi" caci maki ketimbang apresiasi, akhirnya berhasil menuntaskan satu dari empat laporannya. Sebuah langkah kecil yang mungkin terasa seperti tamparan keras bagi mereka yang berharap dia menyerah di tengah jalan.
Lucu memang melihat bagaimana mesin pembunuh karakter bekerja. Di saat Juhari berjuang mempertanyakan kemana larinya tetesan BBM bersubsidi di APMS 56.694.06 Sapeken, kubu sebelah justru sibuk menyebar narasi bahwa dirinya adalah seorang "pemeras".
Mungkin bagi segelintir pengusaha yang hatinya sudah sehitam jelaga mesin, siapapun yang berani mengusik kenyamanan "bisnis subsidi" mereka otomatis dianggap penjahat. Namun, bagi masyarakat Sapeken yang selama ini hanya bisa menonton subsidi pemerintah menguap entah ke mana, doa-doa mereka justru menjadi bekal Juhari saat melangkah ke:
1~Direktorat Polair Polda Jatim
2~Paminal Polda Jatim
Serangan terhadap Juhari bukan lagi soal argumen, melainkan sudah masuk ke ranah "pengeroyokan" mental dan harga diri. Namun, sepertinya para penyerang ini salah sasaran. Bagi aktivis kepulauan ini, harga diri bukan barang dagangan yang bisa ditawar di pasar gelap.
"Manusia yang tidak punya adab karena gelapnya hati yang terbungkus kesombongan, sebenarnya lebih mulia seekor anjing yang ditakdirkan menjaga para Ashabul Kahfi," cetus Juhari dengan kalimat yang menyayat, seolah mengirim pesan bahwa loyalitas pada kebenaran lebih berharga daripada tahta yang dibangun di atas penderitaan rakyat.
Di tengah lelahnya melawan ketidakadilan yang masih membekas, Juhari tetap memilih berdiri tegak. Dia dengan tegas menolak menjadi bagian dari barisan “penjilat bertopeng pahlawan” mereka yang bicaranya manis di depan kamera tapi tangannya sibuk mengamankan "jatah" di bawah meja.
"Saya bukan orang lain yang pura-pura pintar tapi sebenarnya bodoh," pungkasnya. Sebuah sindiran telak untuk para intelektual gadungan yang mendadak bisu saat melihat penyimpangan subsidi, namun mendadak vokal saat ingin menjatuhkan pejuang lapangan.
Surabaya mungkin adalah Kota Pahlawan, tapi hari ini, pahlawan yang sebenarnya datang dari pulau jauh, tanpa seragam mahal, hanya berbekal nyali untuk melawan gurita keserakahan yang mencoba mematikan cahaya di Sapeken. Satu laporan selesai, tiga lagi menanti. Akankah para "raksasa" itu mulai gemetar? Kita lihat saja.
Pewarta: Juhari
Reporter: Jay
Lay Out: Wulan
Editor: Hary



Posting Komentar