KDMP Mojokerto Gelar Pertemuan Kedua, Suarakan Penolakan Agrinas dan Dorong Audiensi ke DPRD
Jatimnews.info || Mojokerto – Paguyuban KDMP Mojokerto kembali menggelar pertemuan lanjutan yang berlangsung di NR Coffee, wilayah Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Kamis (28/5/2026) pukul 10.00 hingga 13.00 WIB.
Pertemuan tersebut menjadi agenda kedua setelah sebelumnya para pengurus dan perwakilan desa mengadakan konsolidasi awal terkait arah perjuangan koperasi desa di Kabupaten Mojokerto.
Kegiatan dipimpin langsung Ketua Umum Paguyuban KDMP Mojokerto, Dewa Arif Ardiansah dari Desa Temon, Kecamatan Trowulan. Dalam penyampaiannya, Dewa menegaskan bahwa forum tersebut bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan wadah untuk menyatukan suara para pengurus koperasi desa yang selama ini merasa memiliki banyak persoalan dan kegelisahan di lapangan.
Menurutnya, langkah pertama yang dilakukan paguyuban adalah membuka seluruh unek-unek dan persoalan dari masing-masing pengurus KDMP agar tidak ada lagi komunikasi yang tertutup.
Setelah itu, langkah berikutnya ialah mempersiapkan audiensi lanjutan menuju DPRD agar suara para pengurus koperasi dapat didengar secara resmi oleh lembaga legislatif.
“Kami ingin mengembalikan marwah koperasi benar-benar kembali kepada koperasi. Kami berusaha menyuarakan aspirasi yang kami yakini, termasuk sikap KDMP Mojokerto yang menolak keberadaan Agrinas,” ujar Dewa di hadapan peserta forum.
Dalam pertemuan tersebut juga muncul berbagai pandangan kritis dari peserta. Sebagian pengurus menilai keberadaan sistem maupun kebijakan baru yang dinilai terlalu tergesa-gesa justru memunculkan keresahan di tingkat desa. Bahkan muncul kekhawatiran bahwa koperasi desa perlahan kehilangan independensi apabila seluruh kebijakan terus diarahkan tanpa melibatkan suara pengurus di bawah.
Dewa juga menjelaskan bahwa ke depan pihaknya akan berusaha menjalin komunikasi dengan DPRD maupun Kodim Mojokerto agar tercipta ruang dialog bersama.
Menurutnya, langkah duduk satu meja jauh lebih baik dibanding munculnya gejolak berkepanjangan di tingkat desa.
“Kami ingin ada mufakat. Kalau ada kekurangan di antara pengurus, kita saling membantu,” tambahnya.
Pertemuan tersebut turut didampingi penasehat paguyuban, Abah Sampoerna, serta dihadiri sekitar 20 undangan dari berbagai desa dan kecamatan di Mojokerto.
Seluruh peserta terlihat aktif menyampaikan pendapat terkait kondisi koperasi desa yang saat ini mulai menjadi perhatian banyak pihak.
Dalam forum itu juga disinggung mengenai adanya informasi bahwa sejumlah pengurus koperasi di Kabupaten Mojokerto sempat berencana mengundurkan diri.
Bahkan disebutkan bahwa Dandim Mojokerto telah mendengar persoalan tersebut dan mengingatkan jajaran Danramil agar tidak terjadi kesalahan pendekatan terhadap pengurus koperasi desa.
Situasi tersebut dinilai menunjukkan bahwa persoalan koperasi desa kini mulai berkembang menjadi perhatian lintas sektor. Sejumlah peserta berharap pemerintah tidak hanya melihat koperasi sebagai instrumen administratif semata, namun juga sebagai wadah ekonomi masyarakat desa yang harus dijaga independensi dan keberpihakannya terhadap rakyat kecil.
Jurnalis: Johanes
Lay Out: Lisya Wulan
Editor: Harijono



Posting Komentar