Kyai Upas Meriah dan Khidmat Di Ndalem Pendopo Kanjengan
Doc Foto: Jamasan Kanjeng Kyai Upas bukan sekadar upacara adat semata, melainkan simbol persatuan, doa bersama demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh rakyat Tulungagung
Jatimnews.info || Tulungagung - Jum'at, 3 Juli 2026 – Ribuan warga dari berbagai penjuru Kabupaten Tulungagung memadati kawasan Ndalem Kanjengan, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Tulungagung, hari ini. Mereka berkumpul mengikuti tradisi tahunan Jamasan Pusaka Tombak Kanjeng Kyai Upas – salah satu warisan budaya utama yang dijaga terus‑menerus sejak ratusan tahun lalu.
Acara berlangsung khidmat, tertib meriah, diwarnai iringan kesenian asli daerah. Hadir dan memimpin langsung rangkaian kegiatan Pelaksana Tugas Bupati Tulungagung, Ahmad Bahrudin. Turut mendampingi seluruh unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), antara lain Kepala Kepolisian Resor Tulungagung, Komandan Distrik Militer 0807, Kepala Kejaksaan Negeri Tulungagung, Sekretaris Daerah, anggota DPRD, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta para pimpinan instansi terkait.
Turut hadir pula pemangku adat, tokoh agama, tetua masyarakat, tokoh pendidikan, pelaku seni, serta perwakilan desa dan kelurahan dari seluruh kecamatan se‑Kabupaten Tulungagung.
Rangkaian prosesi penuh makna
Kegiatan dimulai pagi hari dengan arak‑arakan pembawa Banyu Sanga atau air yang diambil dari sembilan sumber berbeda. Di antaranya mata air hulu, tengah dan hilir sungai, pertemuan dua aliran air, serta tetesan tanaman tertentu seperti tebu, kelapa, dan pisang raja. Air‑air tersebut dicampur dengan kembang tujuh rupa dan daun‑daunan wangi sebelum dibawa beriringan menuju ruang penyimpanan pusaka.
Iringan rombongan disertai gamelan tradisional, tarian penyambutan, serta kelompok kesenian Reog dan Jaranan sebagai ciri khas budaya Tulungagung.
Sesampainya di tempat prosesi, juru jamas Ki Winarto beserta pembantu adat mulai melaksanakan pembersihan pusaka dengan cara turun‑temurun. Menurut penjelasannya, Tombak Kanjeng Kyai Upas merupakan warisan sejak masa Ki Ageng Mangir, disimpan dan dijaga ketat di Ndalem Kanjengan.
“Bilah pusaka berukuran sekitar 35 sentimeter, gagang kayu panjang mencapai 4 meter, dan berukir kalimat suci. Selama proses pembersihan terus dibacakan Surat Yasin, Tahlil serta doa bersama hingga selesai sepenuhnya,” jelas Ki Winarto.
Pentingnya menjaga warisan leluhur
Dalam sambutannya, PLT Bupati Ahmad Bahrudin mengapresiasi semangat masyarakat yang terus melestarikan tradisi ini.
“Jamasan Kanjeng Kyai Upas bukan sekadar upacara adat semata, melainkan simbol persatuan, doa bersama demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh rakyat Tulungagung. Tradisi ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda, menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab kita semua,” ujar Ahmad Bahrudin.
Ia juga menegaskan dukungan pemerintah daerah agar nilai‑nilai budaya tetap terjaga dan makin dikenal luas, baik oleh generasi muda maupun masyarakat luar daerah.
Berkah dan harapan warga
Setelah selesai proses utama, sisa air pembersihan pusaka dibagikan kepada warga yang hadir. Dipercaya membawa berkah, menjauhkan musibah dan menolak bala bagi siapa saja yang menggunakannya dengan niat baik.
Tradisi Jamasan Tombak Kanjeng Kyai Upas rutin dilaksanakan setiap mendekati atau tepat pada tanggal 10 bulan Suro kalender Jawa. Tahun ini berjalan lancar, aman dan tertib berkat kerja sama antara pemerintah, pemangku adat serta masyarakat luas.
Pewarta: Arga
Lay Out: Lisya Wulan
Editor: Harijono


Posting Komentar